4 Hal/Barang Yang Sering Salah Disebut Orang

Ketika membuat tulisan ini, gua teringat sama perumpamaan paling terkenal di Indonesia, “Ada gula ada semut.” Kalau dipikir-pikir, perumpamaan tersebut gak sepenuhnya benar. Kenapa? Karena gak semua semut suka gula. Semut rang-rang misalnya.

Nah, kayak perumpamaan di atas, dalam hidup sehari-hari ada banyak hal yang kita sering salah sebut. Hal-hal yang secara fisik bentuknya sama, padahal sebenarnya beda. Kayak semut, bentuknya banyak yang serupa, mirip. Tapi sebenarnya gak sama, beda-beda. Baik beda habitatnya, jenisnya, cara bertahan hidupnya, maupun bentuk tubuhnya. Malahan ada yang bentuknya jelas-jelas beda, tapi disebutinnya sama aja.

Yah, namanya juga manusia. Gak ada yang sempurna. Pengennya sih bilang kalo kesempurnaan itu hanya milik Andra & The Backbone, tapi sayangnya udah basi, asem.

Kita semua pernah salah menyebut dan mengartikan hal-hal di bawah ini, bahkan mungkin sekarang pun masih. Hal-hal yang kelihatannya serupa, padahal beda. Apaan aja misalnya?

1. Earphone – Headphone – Headset

Menurut gua, ini yang lumrah paling sering ditemuin dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak yang sering ketuker dan belum bisa bedain mana earphone, mana headphone, mana headset, dan mana handsfree. Walaupun pada dasarnya fungsinya mirip. Padahal…

Earphone itu bentuknya kaya gini:

(sumber gambar: Rediff)

Disebut earphone karena phone (speaker) –nya didesain khusus sedemikian rupa buat nyantol di ear (kuping). Earphone ini adalah bentuk pengembangan versi praktis dari…

Headphone, yang bentuknya kaya gini:

(sumber gambar: Obethlee)

Disebut headphone karena phone-nya lebih besar dan bisa melintang selingkaran head (kepala) manusia. Biasanya dipake buat kebutuhan denger suara yang lebih jelas, kaya studio musik, dll.

Nah, kalo headset itu kaya gini:

(sumber gambar: Tomshardware)

Bentuknya mirip sama headphone, mirip banget, mungkin masih satu orang tua. Cuma bedanya headset itu dilengkapi sama microphone buat ngomong. Headset ini biasanya dipake buat voice call atau video chat, juga buat main game online. Makanya sering kalo ke warnet pasti pakenya headset, bukan headphone.

Satu lagi, handsfree, bentuknya kaya gini:

(sumber gambar: Cellpowerretail)

Udah familiar kan sama bentuknya? Yak betul, kalo beli handphone baru biasanya pasti ada giniannya. Jadi handsfree ini emang khusus buat komunikasi, makanya dilengkapi sama microphone, dan tombol pengatur volume. Handsfree ada yang pake kabel, ada juga yang nirkabel (pake bluetooth).

2. Steker – Stop Kontak – Saklar

Kalo ditanya, apa hal paling penting dalam hidup manusia saat ini, jawabannya cuma satu: colokan listrik. Kayanya sekarang mau kemana-mana, yang dicari pasti colokan listrik. Buat apa? Buat nyolokin mesin kompresor cuci steam nyolokin chargeran gadget tentunya.

Sayangnya, masih banyak yang ketuker. Colokan listrik disebut saklar, stop kontak, atau steker. Padahal…

Saklar itu bentuknya kaya gini:

(sumber gambar: octoviandiningrum)

Buat matiin-nyalain lampu. Tapi orang biasanya nyebutnya “cetrekan”.

Stop kontak (t-nya jangan diilangin) itu yang kaya gini:

(sumber gambar: listrikshop)

Biasa disebut “colokan listrik”.

Dan Steker itu bentuknya kaya gini:

(sumber gambar: ariefl114)

Seringnya sih dipanggil “colokan”.

Udah pada tau kan fungsinya masing-masing buat apaan? Gampangnya, kalo steker itu yang nyolok, dan stop kontak itu yang dicolok. Jadi steker dan stop kontak maen colok-colokan deh.

Jas – Blazer

Kalo yang ini, pasti banyak yang belum tau. Soalnya ya dua jenis pakaian di atas bukan pakaian umum di Indonesia. Gak kayak di luar yang hampir setiap orang pasti punya jas karena memang standar pakaian formal di sana adalah itu. Jas itu yang kaya gini bentuknya:

Nah, kalo Blazer itu turunan dari jas. Blazer itu modifikasi versi gak terlalu formil dari jas, alias versi santai. Jadi yang pake blazer gak harus satu stel dengan celana dan dasi. Bisa pake kaos buat dalemannya, dan bawahannya jeans. Kaya gini salah satu contohnya:

Futsal – Indoor Soccer

Menurut peraturan permainan yang resmi, olahraga futsal hanya boleh dilakukan di atas permukaan lapangan yang rata dan keras. Seperti dari kayu, synthetic rubber, atau lantai semen. Itulah mengapa pertandingan futsal resmi yang digelar PSSI atau FIFA, gak ada yang dimaenin di atas lapangan rumput sintetis. Kenapa? Karena rumput sintetis cuma memenuhi satu syarat lapangan, yaitu rata, tapi kerasnya nggak.

Aslinya, penggunaan lapangan rumput sintetis itu dipakenya buat indoor soccer (sepakbola dalam ruangan), bukan buat futsal. Beda ya, jangan samain. Cuma di Indonesia lapangan rumput sintetis banyak yang dimodif jadi lapangan futsal, dan dimaeninnya pake peraturan futsal, jadinya kalo maen di rumput sintetis orang sini nyebutnya tetep maen futsal. Padahal di luar sana, mau pake peraturan futsal kek, kalo maennya di rumput sintetis tetep aja disebutnya indoor soccer. Ya karena itu tadi, menganut peraturan permainan yang bener.

Nah, sekarang udah pada bisa bedain kan. Mana yang bener mana yang salah. Sebarin ke temen-temen, biar pada gak salah lagi.

Kalo ada yang mau nambahin, sok mangga silakan kasih di kolom comment di bawah. Okeh!

Sumber Nyunyu.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s